Kajian Pustaka: Menanggulangi Stres

Menanggulangi Stres

            Salah satu prinsip penanggulangan stres adalah prinsip homeostatis. Prinsip ini disampaikan oleh (Kuntjojo, 2009). Dikatakan bahwa prinsip homeostatis Stres merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan dan cenderung bersifat merugikan. Oleh karena itu setiapindividu yang mengalaminya pasti berusaha mengatsi masalah ini. Hal demikian sesuai dengan prinsip yang berlaku pada organisme, khususnya manusia, yaitu prinsip homeostatis. Menurut prinsip ini organisme selalu berusaha mempertahankan keadaan seimbang pada dirinya. Sehingga bila suatu saat terjadi keadaan tidak seimbang maka akan ada usaha mengembalikannya pada keadaan seimbang.

Memiliki masalah dengan pasangan? mungkin butuh referensi kata-kata cinta untuk pasangan

            Prinsip homeostatis berlaku selama individu hidup. Sebab keberaan prinsip pada dasarnya untuk mempertahankan hidup organisme. Lapar, haus, lelah, dts. merupakan contoh keadaan tidak seimbang. Keadaan ini kemudian menyebabkan timbulnya dorongan untuk mendapatkan makanan, minuman, dan untuk beristirahat. Begitu juga halnya dengan terjadinya ketegangan, kecemasan, rasa sakit, dst. mdondorong individu yang bersangkutan untuk berusaha mengatasi ketidak seimbangan ini.

            Ada deksripsi lainnya tentang coping terhadap stres, yaitu dengan flight response, fight response, dan freeze response (Yulia, 2000). Flight response: upaya menghadapi stres dengan tindakan menghindar dari masalah atau situasi penyebab stres. Fight response: usaha menghadapi stres dengan cara menghadapi dan menyelesaikan masalah atau stressor. Freeze response: tindakan menghadapi stres dengan berdiam diri, pasrah dan menyerah terhadap apa yang terjadi pada dirinya. Aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan untuk meredakan atau menghilangkan stres antara lain: menarik nafas dalam-dalam, membicarakan hal itu dengan orang yang tepat, tertawa, santai, melakukan kegiatan-kegitan yang positif dan kreatif

            Lazarus dan Folkman (1984) mengatakan bahwa cara menanggulangi stres adalah upaya merubah kognitif dan perilaku secara terus-menerus untuk mengelola tuntutan eksternal tertentu yang dinilai meningkat atau melebihi kemampuan seseorang. Menurutnya, coping stres dapat dilakukan dengan cara yaitu emotion focused coping dan problem focused coping.

  1. Emotion focused coping (emosi sebagai fokus penanganan)

Cara ini dilakukan dengan mengurangi emosi negatif yang ditimbulkan oleh situasi yang tidak menyenangkan. Seperti menghindari (avoidance), meminimalisasi (minimization), memberi jarak (distancing), selective attention, perbandingan positif (positive comparisons), dan mengambil nilai positif dari suatu kejadian negatif. Contohnya dengan memaknai setiap masalah dalam keluarga dengan sikap bersyukur dan sabar.

  • Problem focused coping (permasalahan sebagai fokus penanganan)

Cara ini dilakukan dengan melakukan tindakan langsung untuk memecahkan masalah. Oleh karena itu, cara ini sering diarahkan pada mendefinisikan masalah (defining the problem), menghasilkan solusi alternatif (generating alternative solutions), pembobotan alternatif dalam hal cost (biaya) dan manfaat, memilih antara cost (biaya)dan manfaat, dan bertindak (acting). Namun fokus cara ini lebih luas mencakup strategi yang berorientasi pada masalah. Contohnya dengan mempelajari perilaku anak bermasalah, atau memperbaiki komunikasi dengan pasangan.

            Suatu studi yang dilakukan oleh Folkman dkk (Taylor, 2006) menunjukkan beberapa variasi usaha dari kedua strategi terdahulu, hasil studi tersebut menunjukkan beberapa usaha koping yang muncul diantaranya:

a. Problem Focused Coping

  1. Confrontative coping: yaitu usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap sumber tekanan dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan        yang tinggi, dan pengambilan resiko.
  2. Seeking Social Support: atau mencari dukungan sosial yaitu usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari orang lain.
  3. Planful Problem Solving: yaitu usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang hati-hati, bertahap, dan analitis.

b. Emotion Focused Coping

  1. Escape (keluar): yaitu usaha yang dilakukan individu untuk menghindari masalah dengan berkhayal atau membayangkan hasil yang terjadi dan ia berada pada situasi yang lebih baik dari yang dialami sekarang. Atau dapat pula dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum, merokok atau menggunakan obat-obatan.
  2. Seeking social emotional support: adalah upaya untuk mencoba memperoleh dukungan secara emosional maupun sosial dari orang lain.
  3. Self Control: adalah usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan.
  4. Distancing: usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan.
  5. Positive reapraisal : adalah usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan terfokus pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat religius.
  6. Accepting responsibilty: usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. Strategi ini baik, terlebih bila masalah terjadi karena pikiran dan tindakannya sendiri. Namun strategi ini menjadi tidak baik bila individu tidak seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebu

            Ada beberapa teknik coping yang bisa diterapkan, menurut Greenberg (2004) diantaranya environmental planning (merencanakan lingkungan), relabeling (menanamkan kembali), self talk (berbicara pada diri sendiri), tought stopping (menghentikan pikiran), dan teknik ABCD.Penjelasan lebih lengkap tentang teknik coping tersebut dijelaskan pada paragraf selanjutnya.

            Pertama, environmental planning (merencanakan lingkungan)adalah bagaimana seorang individu memilih lingkungan yang bebas dari stressor bagi dirinya. Misalnya, seorang yang mudah stres terhadap keramaian, atau kebisingan sebaiknya tidak memilih tempat tinggal di daerah perkotaan.

            Kedua, relabeling (menanamkan kembali), dalam arti bahwa individu merubah konsep yang telah ada dengan sadar. Merubah dari konsep negatif menjadi konsep positif dan memfokuskan segala konsep negatif pada hal-hal yang positif. Misalnya, individu yang cemas berlebihan ketika naik pesawat terbang karena takut jatuh atau yang lain, individu ini bisa me relabel dengan menanamkan dalam pikirannya bahwa ini kesempatan melihat lautan awan, melihat kota tempat tinggalnya dari atas dan seterusnya.

            Ketiga, self talk  atau berbicara pada diri sendiri tentang sesuatu yang bisa merubah rasa khawatir dalam diri. Misalnya, ‘saya yakin dosen itu akan baik pada saya’. Kalimat ini akan berfungsi menurunkan kekhawatiran yang menimbulkan efek stres dalam diri individu.

            Keempat, tought stopping (menghentikan pikiran) artinya bahwa ketika mengalami pikiran-pikiran negatif maka individu bisa menghentikan kemudian mematikan pikiran negatif dalam dirinya. Kelima, teknik ABCDE. Teknik merupakan kepanjangan dari (Activating, Belief, Consequences, Dispute irrational believe, Effect) dan secara umum didefinisikan sebagai teknik pengujian pikiran yang irrasional yang membuat individu cemas, kemudian merubah pikiran-pikiran (yang telah menjadi kepercayaan), dan memimpikan konsekuensi-konsekuensi positif dari apa yang dilakukan. Activating adalah tahap menemukan sumber-sumber stres. Belief adalah tahap menemukan pikiran-pikiran yang rasional dan tidak rasional. Consequences adalah menemukan akibat-akibat secara mental, fisik dan perilaku. Dispute irrational beliefs adalah tahap membantah pikiran yang irrasional. Effect adalah tahap yang didapatkan setelah melakukan proses-proses di atas, dengan menemukan perubahan-perubahan baru.

            Berdasar penjelasan tentang coping (penanganan stres) di atas, maka dapat dikatakan bahwa stres dapat ditangani dengan dua pendekatan, yaitu: pendekatan yang befokus pada problem atau pendekatan yang berfokus pada emosi. Dalam pendekatan yang berfokus pada emosi ada beberapa cara menangani stres, diantaranya dengan melakukan positive reappraisal (memaknai peristiwa dengan positif).  Memaknai positif peristiwa yang menyedihkan dalam hidup, dapat terwujud dalam berbagai bentuk makna. Ada kecenderungan, bahwa makna positif yang dihasilkan individu terhadap peristiwa hidupnya akan berhubungan dengan nilai-nilai transenden, misalnya: seorang individu yang memiliki ujian berat dalam hidup memungkinkan mereka menjadi lebih sabar, mampu menerima dengan lapang, karena individu tersebut memiliki kepercayaan kuat terhadap kekuatan yang Maha tinggi, yang akan menolong dan melindunginya. Sehingga makna-makna negatif yang ada dalam pikiran dan menjadi beban akan terdeksi dengan pemaknaan-pemaknaan positif tersebut.